 |
| Ilustrasi Internet Lelet |
AkuDuluAnak.Tk - Lembaga riset Akamai telah mengeluarkan laporan terbarunya
mengenai "State of the Internet" dunia untuk Q3-2013. Dari laporan
terbaru ini, dalam hal kecepatan rata-rata Internet, posisi Indonesia
melorot ke posisi 118 dunia di mana pada Q2-2013, Indonesia masih
bertengger di posisi 108 dunia.
Indonesia menduduki posisi 118 tersebut karena dari kecepatan internet rata-ratanya Indonesia hanya mencapai 1,5 Mbps.
Setidaknya ada lima faktor mengapa peringkat Indonesia dalam hal kecepatan internet melorot, yaitu:
1. Gagalnya implementasi WiMax
Di Indonesia, WiMax sudah diwacanakan sejak 2005, dan empat tahun
kemudian pemerintah menggelar lelang penyelenggaranya di pita 2,3 GHz.
Namun, sudah lima tahun berjalan, WiMax tak kunjung jalan, dan malah
terkejar teknologi yang lebih baru, LTE.
Kendala ketersediaan perangkat dan adanya aturan TKDN menjadikan
teknologi Internet nirkabel pita lebar itu sudah mati.Sembilan tahun
kemunculannya di Indonesia, WiMax masih juga bergeming, diam tak
beringsut, dan terus terlelap dalam tidur panjangnya.
Meskipun pemerintah akhirnya menuruti kemauan komunitas dan industri
dengan mengubah regulasi dari 16d ke teknologi netral atau mengarah ke
16e, namun WiMax seperti layu sebelum berkembang, sama sekali tak ada
gemanya, tidak seperti awal kemunculannya pada 2005. Saat itu hampir
semua pejabat pemerintah dan terutama vendor memandang WiMax merupakan
telekomunikasi masa depan.
Namun kenyatannya, jumlah penggunanya saat ini tak lebih dari puluhan
ribu orang saja. Bandingkan dengan teknologi GSM/EDGE/3G yang muncul
pada 1993 dan operator pertama hadir pada 1994, di mana hanya dalam
selang waktu 19 tahun sudah memiliki pelanggan lebih dari 240 juta
orang. Fantastis!
2. LTE Masih Maju Mundur
Tarik ulur seputar implementasi LTE lebih dikarenakan pemerintah
belum juga menentukan frekuensi mana yang akan digunakan untuk LTE, atau
bagaimana mekanisme implementasi teknologi seluler berkecepatan tinggi
itu.
Bila implementasi LTE seperti GPRS atau EDGE, maka operator bisa
langsung menggunakan frekuensi yang dimilikinya di manapun untuk LTE.
Tapi, bila pemerintah leih memilih metode seperti 3G, terutama agar
memberikan pemasukan ke negara, maka pemerintah harus menentukan satu
frekuensi khusus LTE dan dilelangkan.
Sedangkan kandidat pita frekuensi untuk LTE pun masih belum bersih
dan tertata, seperti di pita 700 MHz yang masih digunakan untuk televisi
terrestrial, atau di pita 1.800 MHz yang masih juga ditata.
Padahal, baik operator maupun vendor sudah sangat siap menerapkan LTE
meski dari cakupan layanannya mungkin masih di kota besar saja.
3. Operator Hanya Bangun Data di Perkotaan
Survei Akamai adalah merupakan rata-rata akses internet di seluruh
Indonesia. Jadi, meskipun di perkotaan akses internet kencang, namun hal
itu tidak terjadi di kota-kota kecil atau di perdesaan yang persentase
pemakaian datanya juga cukup besar.
Hal itu wajar, karena tentunya operator dan penyelenggara jasa
internet lebih memandang ke aspek ekonomis dan yang lebih mendatangkan
keuntungan bagi perusahaan, apalagi dengan kondisi geografis Indonesia
yang berpulau-pulau menjadikan biaya pembangunan infrastruktur di
daerah-daerah terpencil makin mahal.
Beberapa operator bahkan sampai mengelimnasi sejumlah BTS-nya di luar
Jawa karena tidak kuat membayar biaya sewa kepada kontrator menara
telekomunikasi, sehingga sinyal data pun makin berkurang.
Program universal service obligation (USO) dan penyediaan layanan
internet kecamatan (PLIK) yang dicanangkan Kominfo pun belum terlihat
dampaknya, bahkan di beberapa daerah malah terbengkalai.
4. Jaringan Internet di Indonesia Belum Tier-1
Pertumbuhan internet di Indonesia memang sangat mengkilap. Pengguna
internet nya saja, menurut survei Indonesia ICT Institute sudah mencapai
120 juta orang meskipun oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) diklaim baru sekitar 71,1 juta orang.
Namun, pertumbuhan yang mengkilap itu tidak dibarengi dengan
pembangunan infrastruktur jaringan serat optiknya. Indonesia bahkan
masih mengakses ke Singapura untuk akses Tier-1, selain HongKong sebelum
ke Amerika Serikat.
Karena mahalnya koneksi setelah melewati beberapa gateway, maka satu
jalur koneksi harus dibagi ke beberapa pengguna sehingga menyebabkan
koneksinya menjadi lambat.
Bila Indonesia memiliki akses langsung ke Amerika Serikat, maka akses
bandwidth menjadi lebih murah karena harganya bakal bersaing.
Mahalnya bandwidh dari satelit lokal juga menjadi pemicu lambatnya
akses internet karena bandwidth yang dibeli tentunya tidak bisa besar.
5. Tingginya pengguna data
Banyaknya pengguna data di Indonesia juga menjadi pemicu leletnya
akses internet. Sekedar gambaran, Telkomsel saja memiliki pelanggan data
aktif sebanyak 60 juta orang, sedangkan operator lain mungkin berkisar
20-30 juta orang.
Jumlah tersebut belum ditambah pengguna internet yang lewat PC atau laptop sehingga penggunanya bisa melebihi 120 juta orang.
Dengan pengakses yang besar, sementara kapasitas dan teknologinya
masih 3G, maka wajar bila akses internet Indonesia lambat laun makin
lambat, karena ibaratnya sebuah jalan tol yang lebarnya tetap harus
dilalui lebih banyak kendaraan yang masuk, maka laju kendaraan pun
melambat atau macet.